Pagi itu, sekitar pukul 09.00 WIB, langit di atas Kota Palangka Raya terlihat cerah. Di tepi jalan deretan Jalan Diponegoro, tampak para pedagang musiman menjual aksesoris atau pernak pernik untuk 17 Agustus terlihat menggelar dagangannya di pinggir jalan.
Berbagai aksesoris yang dijual antara lain, bendera merah putih dengan berbagai ukuran, umbul-umbul dan background, bahkan pohon pinang, dengan harga yang bervariasi sesuai dengan ukuran dan jenisnya.
Salah satu pedagang aksesoris, Uar (41), mengatakan sejak dari 24 Juli sudah mulai menjual aksesoris antara lain umbul-umbul, bendera dan background. Namun dia mengaku masih sepi pembeli, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Tahun ini sepi pembeli, omset juga turun,” kata pria asal Bandung, Jawa Barat (Jabar) yang sudah 7 tahun menjadi penjual aksesoris itu, Selasa (13/8).
Uar mengaku, sejak menjual aksesoris dari Juli hingga sekarang, kurang lebih 10 kodi yang terjual atau sebanyak 200 aksesoris yang terjual, dari 70 kodi yang dibawanya dari Bandung.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp25 ribu sampai yang termahal Rp300 ribu. Harga tersebut tergantung tawar menawar dengan pembeli.
Uar menyebutkan bahwa jumlah tersebut menurun jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana setiap tahun mampu menjual 70 kodi. Menurutnya hal ini berhubungan dengan banyak orang yang baru pulang dari mudik Lebaran.
Hal senada juga diungkapkan oleh Adi (28), pedagang aksesoris di Jalan Diponegoro. Dia mengaku, omset penjualan tahun ini menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya. Namun dia enggan menyebutkan berapa banyak jumlah omset yang turun.
“Sepi dagangannya, sehari paling 5-10 potong terjual, itupun tidak setiap hari,” jelasnya.
Adi tidak tahu pasti apa sebabnya. Selama 4 tahun menjadi pedagang aksesoris 17 Agustus di Palangka Raya, baru kali ini sepi pembeli. Kendati demikian menurutnya masih ada beberapa hari lagi sebelum 17 Agustus, sehingga kemungkinan untuk terjualnya aksesoris masih ada waktu.
Berbeda dengan Lukman (28), warga jalan Anggrek I, Palangka Raya, penjual batang pinang, mengaku baru 17 Agustus tahun ini kembali menjual pohon pinang, setelah 2 tahun sebelumnya tidak lagi menjual, karena tidak ada permintaan.
”Tahun ini baru jualan batang pinang lagi, soalnya baru ada permintaan dari pembeli,” Lukman.
Harga yang dutawarkan dari pohon pinang bervariasi, untuk kategori dewasa dengan panjang kurang lebih 8 meter harga berkisar Rp500 ribu, sementara untuk kategori anak-anak Rp300 ribu dengan panjang 6 meter.
Lukman mengakui sebelumnya mampu menjual pohon pinang antara 10-15 batang, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Untuk 17 Agustus tahun ini pemintaan sudah mulai banyak.
Peminat pohon pinang ini, diakui Lukman paling banyak dari instansi, baik pemerintah maupun swasta, seperti hotel.
Mujiarto, pegawai Hotel Luwansa, salah satu pembeli pohon pinang, mengatakan, harga batang pinang itu tidak mahal, karena masih bisa dijangkau. ”Saya beli untuk acara 17 Agustus nanti di Hotel Luwansa, soalnya tahun ini ada lomba panjat pinang,” katanya. marianus ym liu
by: http://www.media.hariantabengan.com/index/detail/id/34449
0 Response to "( ADA APA DENGAN 17 AGUSTUS SEKARANG ) Menjelang 17-an Aksesoris Hari Kemerdekaan Sepi Pembeli "
Posting Komentar