Bagaimana Jika tidak Perawan? ( tidak semua perempuan berani untuk mengungkapkan bahwa ia telah tidak perawan sebelum menikah )

by: http://sosbud.kompasiana.com/2013/07/21/bagaimana-jika-tidak-perawan-578532.html 
Kali ini saya ingin menuliskan sedikit mengenai tema Thesis saya.  Saya mengerti keperawanan adalah hal sensitive bagi perempuan, tidak semua perempuan berani untuk mengungkapkan bahwa ia telah tidak perawan sebelum menikah. Tetapi saya berfikir dengan semakin berpendidikanya kaum perempuan dan semakin maju cara berfikir mereka, selaput dara bukan lagi menjadi sebuah kualitas dari penilaian seorang perempuan.

Sampai saat ini, perempuan adalah pihak yang selalu di pojok-kan dan di ‘paksa’ untuk menjaga keperawanan, menjaga selaput dara mereka, menyembunyikan bagian tubuh tersebut, tidak boleh membiarkannya rusak dalam cara apapun sebelum waktunya. Supaya suatu saat nanti bisa ‘dinikmati’ oleh laki-laki yang sudah mempunyai hak atas dirinya melalui lembaga pernikahan. Padahal jika di pikir secara mendalam, selaput dara itu bagian tubuh dari perempuan, ia menempel pada perempuan, ia dimiliki perempuan, dan tentu perempuan sendirilah yang bisa menentukan apakah akan selaput dara tersebut akan dirobek kan, atau tidak. Kenapa ada agen-agen kelaki-lakian disini yang membuat perempuan yang harus menjaganya?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0UQVTrhKTCEsbh_dmBF7R8UuEDDLNHYlma3CRSX6k-0EKW6AKB0oijz1-jfvHjmG2AQ-sgXJcH8mUV8JnMkjqmlKfhXZ1pMOI_T6bQH-2qq12C-CQkRR6GLlf4cT0LiCmShuXXo7gQhvX/s200/upload-1235933687-896.jpg 
 
Sama seperti tenggorokan dan paru-paru laki-laki, paru-paru, sebagai sebuah organ yang begitu penting (dari pada hanya selembar kecil dan tipis yang tak memiliki fungsi kesehatan apapun layaknya selaput dara), kebanyakan laki-laki juga seolah bebas merusak tubuh mereka dengan senyawa kimia berbahaya hasil residu dari rokok. Tetapi anehnya Perempuan tidak boleh merusak dirinya karena seolah perempuan yang ‘rusak’ tidak akan pernah bisa ‘laku’.
Pada tesis saya, saya mengajukan statement bahwa sampai sekarang ini keperawanan di Negara kita masih menjadi isu yang penting dikarenakan adanya program berkeluarga, adanya instansi pernikahan dan dikarenakan goal dari kelajangan adalah membentuk keluarga untuk melahirkan keturunan. Perempuan percaya atau bahkan laki-laki percaya bahwa dengan menikahi perempuan yang masih perawan, maka jaminan keluarga bahagia telah dia genggam. Karena itulah perempuan berlomba-lomba untuk tetap perawan, dan perempuan yang sudah tidak perawan sebelum menikah berusaha untuk menutupinya (hasil wawancara dari beberapa informan). 


Seolah tidak ingin terbohongi dengan upaya perempuan yang menutupi kebohongan status perawan mereka, tidak tanggung-tanggung laki-laki memunculkan wacana tandingan yang berupa mitos supaya perempuan yang telah tidak perawana terus di hantui rasa bersalah dan melihat dirinya tidak beres. Beberapa mitos di sebarkan, mulai dari mitos bahwa perempuan yang tidak perawan bisa dilihat dari perubahan fisik, perilaku, cara bicara, bahan pembicaraan yang mengarah pada topic-topik seksual, hingga cara berpakaian, dan yang paling menghantui perempuan ketika malam pertama adalah mitos keterlaluan tentang darah keperawanan di sprei pengantin (intinya lagi-lagi tentang menikah dan berkeluarga).
Jadi selama instansi pernikahan masih penting dan menjadi agenda kehidupan setiap orang, dan di-simbol-kan sebagai “diambilnya” perempuan sebagai pendamping laki-laki bukan sebagai partner hidup laki-laki, selama itu pula perempuan masih akan selalu khawatir dengan keperawanan mereka, sesuatu yang seharusnya tidak perlu mereka khawatirkan. 

0 Response to "Bagaimana Jika tidak Perawan? ( tidak semua perempuan berani untuk mengungkapkan bahwa ia telah tidak perawan sebelum menikah )"

Posting Komentar